Entri Populer

Sabtu, 16 April 2011

ANALSISIS WACANA DALAM TAJUK RENCANA MEDIA MASA KORAN SOLOPOS DAN SUARA MERDEKA
BERDASARKAN UNSUR LEKSIKAL DAN GRAMAATIKAL
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Analisis Wacana
Dosen pengampu Dr. Sumarlan, M.S.








OLEH
1. Novianto n A310080067
2. Eka Tri S A310080089
3. Ricky Arinda P A310080090
4. Denny P W A310080100
5. Alifta K P A310080104
6. Alfian K D A310080109

PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
PENDAHULUAN
Wacana tajuk meupakan salah satu alat komunikasi tak langsung yang dimuat dalam media massa, tajuk biasa muncul dalam koran harian, wacana tajuk biasa mengungkap sebuah wacana yang sedang marak diperbicangkan,baik berupa gagasan masyarakat umum maupun sosoial ekonomi atau kebudayaan. Wacana tajuk dalam koran solopos berbahasa ringan dan mudah dipahami meskipun kadang mengunakan bahasa asing namun hal ini masih bisa dipahami oleh pembaca.
Wacana tajuk rencana dalam koran solopos dan suara merdeka mengunakan beberapa gaya bahasa yang muncul dalam kalimat atau paragraf. Untuk mengetahui apa saja unsur dan funsinya yang terapat dalam wacana tersebut. Untuk itu perlu adanya analisis lebih lanjut mengenai teknik analisis dan cara penganalisian wacana tersebut. Sebelum kita menganalisis tentang wacaana tajuk yang terdapat dalam koran Solopos dan SUMER.
Dan dalam makalah ini menuliskan analisis tentang analisis berdasarkan unsur gramatikal dan lesikal.

RUMUSAN MASALAH
1. Unsur gramatikal apakah yang terdapat dalam wacana tajuk dalam media koran Solopos dan Suara merdeka
2. Unsur leksikal apakah yang terdapat dalam wacana tajuk dalam media koran Solopos dan Suara merdeka






BAB II
PEMBAHASAN
I. TAJUK RENCANA KORAN SOLO POS TANGGAL 21 SEPTEMBER 2010
A. Dalam Aspek Gramatikal
Analisis wacana tajuk rencana mencari jaksa bersih dalam koran solopos dilihat dari aspek gramatikalnya.
1. Referensi/Pengacuan
Pengacuan adalah salah satu jenis kohesif gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahului atau mengikutinya.
a. Referensi pronomina persona
Dalam tajuk rencana mencari jaksa bersih ditemukan perpaduan wacana yang didukung oleh kohesif gramatikal yang berupa pengacuan persona yang dapat diamati dalam kutipan berikut.
1. Bagi kami, sikap para tersebut sangat aneh dan berlebihan.
2. Kami sepakat jaksa agung dari eksternal kejaksaan.
3. Namun, kami belum melihat sosok pengganti Baharudin Lopa dari internal kejaksaan. Untuk itu kami mendukung Presiden SBY menunjuk jaksa agung dari eksternak kejaksan.
Unsur kami pada kutipan 1, 2, dan 3 merupakan pengacuan pronomina persona bentuk pertama jamak.
Dalam hal ini kami mengacu pada para jaksa. Dengan ciri-ciri yang disebutkan itu maka kami pada kutipan 1, 2, dan 3 merupakan jenis kohesi gramatikal pengacuan endoforis (karena acuannya pada dalam teks).
b. Referensi pronomina demonstratif waktu
Berikut ini adalah contoh kohesi gramatikal yang didukung oleh pengacuaan demonstratif waktu:
1. Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam waktu dekat akan mengganti pejabat setngkat menteri.
2. Dalam beberapa tahun terakhir,
Pada kutipan 1 merupakan bentuk pengacuaan demonstrasi yang akan datang, sedangkan kata beberapa tahun terakhir pada kutipan 2 merupakan bentuk pengacuaan demonstrasi waktu yang lampau.

c. Pengacuan demonstrasi tempat
Dalam teks tajuk rencana mencari jaksa bersih tidak ditemukan pengacuan demontrasi tempat.
d. Pengacuaan Kooparatif Perbandingan
Dalam teks tajuk rencana ini tidak ditemukan pengacuan kooperatif perbandingan.
2 Penyulihan (substitusi)
Penyulihan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal berupa pergantian lingual tertentu dengan cara berupa pergantian lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda. Macam-macam penyulihan antara lain; nominal dan verbal.
Dalam wacana tajuk rencana ditemukan penyulihan substitusi nominal, sebagai brikut:
Setidaknya muncul dua nama yang bakal mengisi posisi jabatan jaksa agung.
3. Pelesapan/elipsis
Pelesapan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal berupa penghilangan satuan lingual tertentu yang disebutkan sebelumnya. Berikut adalah contoh pelesapan pada wacaba tajuk renjana:
Posisi jaksa agunglah yang banyak mendapat sorotan publik, sebab jabatan itu merupakan posisi panas.

4. Perangkaian (konjungsi)
Konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Konjungsi yang terdapat pada iklan ini misalnya tampak pada kalimat berikut:
1. Sebab jabatan itu merupakan kursi panas dimana dapat menentukan hitam putihnya penegakan hukum ditanah air.
2. Hingga saat ini, kami belum melihat sosok pengganti Hendarman Supanji yang berasal dari internal yang memiliki integritas dan memiliki rekam jejak yang baik dan anggup mereformasi institusi kejaksaan.
Kata sebab pada kutipan (1) termasuk ke dalam perangkaian sebab-akibat. sedangkan kata dan pada kutipan (ke2) termasuk ke dalam perangkian penmbahan (editif).

B. Analisis Aspek Leksikal
Kohesi leksikal dalam wacana dapat dibedakan menjadi enam macam:
1. Repetisi
Repetisi adalah lingual yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Repetisi yang terdapat pada iklan ini misalanya tampak pada kalimat berikut:
a. Masih terjadinya tebang pilih penanganan kasus-kasus korupsi.
b. Bagi kami sikap para jaksa tersebut sngat aneh dan berlebihan.... kami sepakat jaksa agung dari eksternal kejaksaan.
Repetisi pada kutipan di atas adalah repetisi epizeuksis yaitu pengulangan satuan lingual kata yang dipentingkan beberapa kali secara berturut-turut.

2. Sinonimi (padan kata)
Sinonimi yang terdapat pada iklan ini misalanya tampak pada kalimat berikut:
Sebab jabatan itu merupakan kursi panas.
Unsur jabatan dan kursi pada kalimat tersebut merupakan sinonimi kata dengan kata.
3. Antonimi (lawan kata)
Dalam wacana ditemukan unsur antonimi misalnya terdapat dalam kalimat berikut:
Kami sepakat jaksa agung dari eksternal kejaksaan. Hingga saat ini kami belum melihat sosok pengganti hendarman supanji yang berasl dari internal yang memiliki intergritas dan rekam jejak yang baik dan sanggup mereformasi institusi kejaksaan.
Unsur eksternal dan internal dalam kalimat tersebut merupakan oposisi kutup.

4. Kolokasi (Sanding Kata )
Dalam wacana ditemukan unsur kolokasi yakni, sebagai berikut:
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam waktu dekat akan mengganti pejabat setingkat menteri. Beberapa jabatan tersebut adalah jaksa agung, POLRI dan panglima TNI.

5. Hiponimi (hubungan atas bawah)
Dalam wacana ditemukan unsur kolokasi sebagai berikut:
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam waktu dekat akan mengganti pejabat setingkat menteri. Beberapa jabatan tersebut adalah jaksa agung, POLRI dan panglima TNI.
Hubungan atas bawah subkoordinat yang digunakan dalam teks tersebut.
6. Ekuivalensi (kesepadanan)
Ekuvalensi yang terdapat pada iklan ini misalanya tampak pada kalimat berikut:
Namun wacan tersebut langsung mendapat reaksi dari internal kejaksan. Setidaaknya 8.000 jaksa menolak jaksa agung dari luar. Mereka mengusulkan calon dari internal kejaksaan.


II. TAJUK RENCANA KORAN SUARA MERDEKA TANGGAL 28 AGUSTUS 2010
A. Dalam Aspek Gramatikal
1. Referensi/Pengacuan
Pengacuan adalah salah satu jenis kohesif gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahului atau mengikutinya.
a. Pengacuan referensi pronominal persona
Dalam Tajuk rencana dalam koran Suara Merdeka gedung baru DPR cederai hati rakyat ditemukan perpaduan wacana yang didukung oleh kohesif gramatikal yang berupa pengacuan persona yang dapat diamati dalam kutipan berikut:
Dan ketika gedung jadi dibangun, mereka dengan suka cita menerima dan menempati.
Kata mereka pada kutipan diatas termasuk pengacuan persona ke-2 bentuk tunggal
b. Pengacuan Demonstrasi Tempat
Dalam Tajuk rencana dalam koran Suara Merdeka gedung baru DPR cederai hati rakyat ditemukan perpaduan wacana yang didukung oleh kohesif gramatikal yang berupa pengacuan persona yang dapat diamati dalam kutipan berikut:
Dinegeri ini masih banyak gedung sekolah yang rusak parah, hampir roboh, bahkan telah roboh.
Unsur rusak parah, hampir roboh, bahkan telah roboh, pada kutipan di atas termasuk pengacuan demonstrasi tempat menunjuk secara eksplisit.

2. Penyulihan (substitusi)
Penyulihan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal berupa pergantian lingual tertentu dengan cara berupa pergantian lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda. Macam-macam penyulihan antara lain; nomindal dan verbal.
Dalam tajuk rencana ini tidak ditemukan penyulihan substitusi.
3. Pelesapan
Pelesapan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal berupa penghilangan satuan lingual tertentu yang disebutkan sebelumnya.
Dalam analisis tajuk rncana di sini tidak ditemukannya pelesapan.

4. Perangkaian (konjungsi)
Konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Konjungsi yang terdapat pada iklan ini misalnya tampak pada kalimat berikut:
a. Di Negeri ini masih banyak anak dan remaja usia sekolah yang tak mampu mengakses layanan pendidikan.
b. Jika dihitung dari total anggaran pembanguna Rp 1,6 triliun artinya setiap anggota DPR mendapt jatah kantor senilai Rp 2,8 miliar.
Unsur dan pada kutipan (1) merupakan bentuk konjungsi penambahan. Sedangkan unsur jika termasuk syarat dan unsur artinya termasuk konjungsi sebab-akibat.

B. Analisis Aspek Leksikal
Kohesi leksikal dalam wacana dapat dibedakan menjadi enam macam:
1. Repetisi
Repetisi adalah lingual yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.
Dan jika citra itu dibangun dengan fasilitas fisik yang dibiayai Negara.
Unsur fisik pada kutipan di atas termasuk repetisi anadiplosis.


2. Sinonimi/ padankata
Sinonimi dalam tajuk rencana di atas sebagai berikut:
Sebab, bisa jadi kendati sekarang ada sebagian anggota atau pimpinan DPR bersuara menolak rencana pembangunan gedung baru itu.
Unsur anggota atau pimpinan termasuk sinonimi kata dengan kata.

3. Antonimi
Antonimi dalam analisis wacana pada Tajuk rencana di atas tidak ada.

4. Kolokasi (Sanding Kata )
Dalam analisis wacana pada tajuk rencana ini tidak ditemukan unsur kolokasi

5. Hiponimi(hubungan atas bawah)
Hiponimi dalam tajuk rencana di atas sebagai berikut:
Nilai yang sangat tidak pantas di tengah kenyataan masih banyak persoalan tentang kemiskinan , pendidikan, infrastruktur, kesehataan, korupsi yang makin menggila.
Unsur kemiskinan , pendidikan, infrastruktur, kesehataan, korupsi yang makin menggila pada kutipan diatas termasuk hiponimi

6. Ekuivalensi (kesepadanan)
Dalam wacana ini tidak ditemukan unsur ekuivalensi.







SIMPULAN

Aspek gramatikal yang dominan di dalam wacana solopos dan suara merdeka Dalam wacana Suara Merdeka terdapat referensi pengacuan persona ke-2 bentuk tunggal dan pengacuan demonstrasi tempat. Dalam wacana Suara Merdeka terdapat perangkaian atau konjungsi sebab-akibat dalam wacana Suara Merdeka terdapat repetisi,sinonim, dan hiponimi. Aspk leksikal yang dominan didalam wacana suara merdeka terdapat repetisi anadiplosis,






















DAFTAR PUSTAKA

Sumarlan. 2008. Analisis Wacana. Surakarta : Pustaka Cakra.
Koran Solopos 21 september 2010
Koran Suara Merdeka 2 september 2010























LAMPIRAN
PROPOSAL PENELITIAN SASTRA
HUBUNGAN MASYRAKAT BAYAT KLATEN TERHADAP MITOS
PESUGIHAN BULUS JIMBUNG SEBUAH PENELITIAN PRAGMATIK


















OLEH

Eka tri sanjaya A310080089
Ricky arinda putra. P A310080090
Denny pandu wicaksana A310080100
Adding youth wasis wiyata A310080112




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN BAHASA INDONESIA DAN SASTRA DAERAH
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
PERSETUJUAN

1. Judul : HUBUNGAN MASYARAKAT BAYAT KLATEN TRHADAP MITOS PERSUGIHAN BULUS JIMBUNG SEBUAH PENELITIAN PRAGMATIK
2. Diajukan oleh
Nama/ NIM : EKA TRI SANJAYA. A.310080089
RIKI ARINDA PUTRA.P A.310080090
DENNY PANDU. W. A.310080100
ADDING YAUTH.W A.310080112

Program Studi : Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia
Fakultas : Keguruan Ilmu Pendidikan
Disetujuai oleh dosen pengampu untuk dipergunakan sebagai penelitian yang dilakukandi Bayat Klaten .

Dosen pengampu


Ali Imron.M.HUM

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mengetahui
Universitas Muhammadiyah Surakarta Ketua Program PBSI



Drs. Yakub Nashucha Drs. Agus Budi wahyudi



LATAR BELAKANG MASALAH

Secara administratif, sesuai dengan namanya, pesugihan Bulus Jimbung terletak di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah. Jika dilihat dengan kasat mata, tempat pesugihan ini hanyalah berbentuk sebuah sendang yang diberi pagar pembatas. Pada sisi timur sendang, tumbuh sebuah pohon randu alas yang usianya sudah ratusan tahun.
Menurut Ruri, 45) tahun, juru kunci, untuk mendapatkan pesugihan di tempat yang dijaganya ini, pelaku harus melakukan perjanjian gaib dengan penguasa gaib sendang Jimbng.Dan untuk bisa melakukan perjanjian gaib, pelaku harus melakukan ritual di tepi sendang Jimbung.
Sendang Bulus Jimbung dihuni Kyai dan Nyai Poleng, yang pada waktu itu Kyai Poleng dan Nyai Poleng adalah abdi dari Dewi Mahdi yang kemudian disabda menjadi bulus lalu Pangeran jimbung menancapkan tongkatnya dan terjadilah sendang yang namanya Sendang Bulus Jimbung Karena tempat berdiamnya bulus Kyai Poleng dan Nyai Remeng, menurut cerita barang siapa datang ke Sendang Bulus Jimbung untuk meminta kekayaan, bila permohonannya terkabul badannya akan menjadi Poleng seperti Bulus Jimbung.
Masih menurut Ruri, pelaku pesugihan Bulus Jimbung harus mempunyai usaha dagang di rumah. Walau hanya kecil-kecilan. Dan hal ini merupakan syarat lain selain melakukan ritual Lalu, bagaimana penguasaha gaib sendang Jimbung memberikan pesugihan kepada pelaku?
Ternyata, dengan sarana berdagang itulah, penguasaha gaib sendang Jimbung memberikan harta kepada pelaku. Menurutnya, jika pendapatan dari hasil berdagang itu kalau dikalkulasi hanya mendapat 100 ribu, maka di dalam kotak tempat penyimpanan uang, jumlah uangnya besar lebih dari itu.
Dengan demikian, bisa dibayangkan, berapa kekayaan yang bakal diraup oleh pelaku. Setiap tahun pelaku harus melakukan ritual jika ingin terus diberi kekayaan oleh penguasa gaib sendang Jimbung. Namun walau penguasa gaib telah memberi kekayaan kepada pelaku, dia tidak memerlukan tumbal nyawa. Tapi menurutnya, ada tanda khusus bagi pelaku pesugihan sendang Jimbung, yakni tubuhnya akan tampak belang-belang seperti warna pada tempurung bulus jimbung yang diyakini sebagai penguasa gaib sendang ini.
Lalu, siapa sebenarnya penguasa gaib sendang Jimbung ini? Menurut juru kunci, yang menjadi penguasa gaib sendang Jimbung yakni sesosok bulus raksasa dengan tempurung berdiameter lebih kurang satu meter. Pada hari-hari tertentu, bulus raksasa ini muncul ke permukaan dan dapat dilihat dengan kasat mata oleh siapapun.
Asal-asul bulus raksasa ini berawal dari abad ke VI di Jawa Tengah. Ketika itu berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kalingga. Kerajaan ini mencapai puncak keemasannya pada tahun 674 M saat tampuk singgasana dipegang oleh seorang raja perempuan yang bernama Ratu Sima.
Menurut cerita penduduk sejak dahulu kala ( tidak di sebut tanggal dan tahunnya) ada upacara getekan di Rowo Jombor tersebut yang bertepatan dengan upacara Syawalan di Sendang Bulus Jimbung dan sampai sekarang banyak di kunjungi oleh wisatawan.

RUMUSAN MASALAH.

a) Bagaimana tanggapan masyarakat sekitar terhadap mitos pesugihan bulus jimbung dari sisi ekonomi,kepercayaan,kultural,pariwisata?
b) Bagaimana hubungan mitos pesugihan bulus jimbung dengan prospek pariwisata di desa jimbung?
BATASAN MASALAH.
a) Tanggapan masyarakat komplek daerah sekitar terhadap mitos pesugihan bulus jimbung
b) Lokasi penelitian hanya terpusat di desa jimbung,kalikotes,klaten,jawa tengah dan instansi instansi pemerintahan yang terkait dengan objek penelitian
c) Tidak membahas objek wisata, cerita rakyat, mitos lain yang berhubungan namun diluar konteks penelitian


TUJUAN PENELITIAN.

a) Mengetahui tanggapan dan dampak dari keberadaan mitos pesugihan bulus jimbung
b) Sebagai media pengenalan kepada masyarakat luas bahwa objek wisata jimbung perlu dipertimbangkan sebagai tujuan wisata


MANFAAT PENELITIAN.
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu sastra pada umumnya dan membrikan pengetahuan tentang cerita rakyat yang ada di desa jimbung.
Secara praktis, penelitian dapat memberikan pengetahuan mengenai keterkaitan mitos persugihan bulus jimbung dengan aspek social yang muncul dari cerita rakyat tersebut terhadap masyarakat luas.
KAJIAN TEORI.

Pengertian Sastra
Kata kesusastraan berasal dari bahasa sanskerta. Kata kesusastraan terbentuk dari kata susastra dan imbuhan ke-an. Sedangkan kata susastra itu sendiri masih dapat dipecah, yaitu dari kata su dan sastra. Kesusatraan diartikan segala tulisan atau karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah (Rani, 1996: 11)
Menurut wellek dan Warren yang dikutip oleh (Wiyatmi, 2006: 15) satra adalah sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan pertama-tama sebuah imitasi, seorang sastrawan menciptakan dunia baru, meneruskan proses penciptaan di dalam semesta alam, balikan menyempurnakan.
Menurut pandangan Ariestoteles bersastra merupakan kegiatan utama manusia untuk menemukan dirikan di samping kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat. Karya sastra yang termasuk karya seni peka tanggap terhadap kebenaran universal (Pradotokusumo, 2005:5).
Beradasarkan pendapat-pendapat para ahli tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kesusastraan atau sastra adalah suatu hasil karya atau ungkapan manusia dalam ide dan pemikiran berupa cerita rekaan di dalamnya mengandung nilai-nilai tinggi yang mengarahkan untuk menghadirkan karya-karya meggunakan hahasa indah.


BULUS JIMBUNG
Cerita tentang Bulus Jimbun, yang biasa Orang mencari pesugihan dengan binatang ini. Binatang yang berupa Bulus ( kura kura ) Poleng yang telah berumur ratusan tahun, dan dengan Diameter tempurung sekitar 80 Cm.
memang banyak masyarakat yang mempercayai binatang ini sebagai penunggu telaga itu yang di Huni Oleh Kyai Poleng.
Kalau yang menurut orang-orang setempat siapa yang nyari pesugihan disini akan mudah dikenali dari timbulnya belang putih seperti terkena penyakit panu diseluruh tubuhnya hingga mukanya dan menghilangnya pigmen kulit( albino ) dan kalau sudah penuh dalam Tubuh Orang tersebut akan mati .



METODE PENELITAN.
a) Lokasi penelitian : pada makalah ini penelitian dilakukan di daerah Bayat Klaten yang mengambil obyek cerita rakyat “persugihan bulus jimbung” serta masyarakat di daerah bayat klaten

b) Pendekatan dan strategi : Penelitian sastra dilakukan dengan metode tertentu dan dengan langkah-langkah kerja seperti dalam penelitian ilmiah lainya. Memilih metode dan langkah langka-langkah tepat sesuai dengan karaktersistik obyek kajianya harus dilakukan. Penerapan metode ilmiah perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperhatikan gejala sastra yang universal tetapi sekaligus khusus atau unik . pada makalah ini kelompok kami mengunakan metode deskriptif komulatif metode jenis ini mengunakan berbagai jenis informasi kualitatif dengan pendiskripsian yang telti dan penuh nuansa untuk mengambarkan sesuatu hal.

c) Obyek penelitian : untuk objek penelitian kelompok kami secara khusus masyarakat Bayat, Klaten yang tinggal didekat objek wisata Sendang Bulus Jimbung.
d) Teknik pengumpulan data. : pengumpulan data dilakukan dengan teknik pustaka, teknik simak catat, wawancara mendalam,

Observasi sebagai suatu metode merupakan proses pengukuran atau evaluasi yang langsung. Dalam metode observasi ada tiga hal yang harus diingat yaitu : apa yang harus diobservasi, kapan dan bagaimana, serta seberapa jauh diperlukan inferensi. Ada empat indicator umum dari suatu tingkah laku yang dapat kita kaitkan dengan metode observasi, yaitu: non verba, spasial, ekstra linguistic, dan linguistic.


Metode observasi dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1. Observasi terbuka : Apabila observasi mencatat berdasarkan kegiatan.
2. Observasi tervokus : Apabila observasi pada bidang tertentu.
3. Observasi terstruktur atau observasi sistematik : Apabila observasi memperoleh jawaban yang dibutuhkan, kemudian menghittung jumlah jawaban.
Metode Wawancara
Teknik pengumpulan data dengan wawancara lebih banyak dilakukan pada penelitian kualitatif dari pada penelitian kuantitatif. Kelebihan metode wawancara adalah peneliti bisa menggali informasi tentang topic penelitian secara mendalam, bahkan bisa mengungkap hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan olleh peniliti itu sendiri, metode wawancara memerluukan kecakapan peneliti yang lebih dari pada pengumpulan data dengan metode lain. Pada penelitian kuantitatif, metode wawancara digunakan untuk melengkapi atau mendukung hasil penelitian, di mana penelitian kuantitatif lebih menekankan pengumpulan data dengan menggunakan metode kuesioner, observasi atau dokumentasi.
Ada beberapa bentuk wawancara antara lain :
1. Wawancara terstruktur, ialah pewawancara sudah mempersiapkan bahan wawancara terlebih dahulu.
2. Wawancara tidak terstruktur, ialah hanya memakai petunjuk tentang topic yang harus diungkap, apabila wawancara sudah berangsung, anda dapat mengarahkan agar yang diinterview menerangkan, mengelaborasi, atau mengklarifikasi jawaban yang kurang jelas.
3. Wawancara semi terstruktur, adalah bentuk wawancara yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu, akan tetapi memberikan keleluasaan untuk menerangkan agak panjang mungkin tidak langsung ke focus pertanyaan, atau mungkin mengajukan topic bahasan sendiri selama wawancara berlangsung. (Elliot, dalam Rochiati, 2006: 118-119).
e) Teknik validasi data. : Agar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan sebagai landasan penarikan simpulan maka digunakan teknik triagulasi yang lazim digunakan dalam penelitian kualitatif . Teknik triagulasi meliputi 4 macam yakni trigulasi data, triagulasi peneliti, triagulasi metode, dan triagulasi teori.

f) Teknik analisis data. : yang digunakan dalam makalah ini merupakan teknik analisis interaktif, dalam analisis interaktif digunakan tiga langkah: 1. reduksi data, 2. sajian data, 3. penarikan simpulan atau verifikasi data.






JADWAL PENELITIAN.

No Tanggal kegiatan Kegiatan
1 14 Des- 20 Des 2010 Penyusunan Proposal
2 25 Des 2010-01 Jan 2011 Pelaksanaan penelitian
3 02 Jan- 09 Jan 2011 Penyusunan laporan dan pelaporan



ETIMASI DANA.

• Pembutan proposal = Rp 20.000,00
• Tranportasi = Rp 100.000,00
• Konsumsi = Rp 150.000,00
• Pembutan laporan = Rp 50.000,00
• Lain-lain = Rp 50.000,00








DAFTAR PUSTAKA

Ratna, nyoman Kuthe. 2009. Teori Metode, dan Tehnik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.